Kamis, 18 April 2013

Batik in World



Wax resist dyeing technique in fabric is an ancient art form. Discoveries show it already existed in Egypt in the 4th century BCE, where it was used to wrap mummies; linen was soaked in wax, and scratched using a sharp tool. In Asia, the technique was practiced in China during the T'ang dynasty (618-907 CE), and in India and Japan during the Nara period (645-794 CE). In Africa it was originally practiced by the Yoruba tribe in Nigeria, Soninke and Wolof in Senegal.
In Java, Indonesia, batik predates written records. G. P. Rouffaer argues that the technique might have been introduced during the 6th or 7th century from India or Sri Lanka.[5] On the other hand, JLA. Brandes (a Dutch archeologist) and F.A. Sutjipto (an Indonesian archeologist) believe Indonesian batik is a native tradition, regions such as Toraja, Flores, Halmahera, and Papua, which were not directly influenced by Hinduism and have an old age tradition of batik making.
Rouffaer also reported that the gringsing pattern was already known by the 12th century in Kediri, East Java. He concluded that such a delicate pattern could only be created by means of the canting (also spelled tjanting or tjunting; pronounced  tool. This is like a pen that holds a small reservoir of hot wax. He proposed that the canting was invented in Java around that time. The carving details of clothes wore by Prajnaparamita, the statue of buddhist goddess of transcendental wisdom from East Java circa 13th century CE. The clothes details shows intricate floral pattern similar to today traditional Javanese batik. This suggested intricate batik fabric pattern applied by canting already existed in 13th century Java or even earlier.
In Europe, the technique is described for the first time in the History of Java, published in London in 1817 by Sir Thomas Stamford Raffles who had been a British governor for the island. In 1873 the Dutch merchant Van Rijckevorsel gave the pieces he collected during a trip to Indonesia to the ethnographic museum in Rotterdam. Today Tropenmuseum houses the biggest collection of Indonesian batik in the Netherlands. The Dutch were active in developing batik in the colonial era, they introduced new innovations and prints. And it was indeed starting from the early 19th century that the art of batik really grew finer and reached its golden period. Exposed to the Exposition Universelle at Paris in 1900, the Indonesian batik impressed the public and the artisans. After the independence of Indonesia and the decline of the Dutch textile industry, the Dutch batik production was lost. The Gemeentemuseum, Den Haag contains artifacts from that era.
Due to globalization and industrialization, which introduced automated techniques, new breeds of batik, known as batik cap and batik print emerged, and the traditional batik, which incorporates the hand written wax-resist dyeing technique is known now as batik tulis (lit: 'Written Batik').
At the same time, according to the Museum of Cultural History of Oslo, Indonesian immigrants to Malaysia brought the art with them. As late as the 1920s Javanese batik makers introduced the use of wax and copper blocks on Malaysia's east coast. The production of hand drawn batik in Malaysia is of recent date and is related to the Javanese batik tulis.
In Sub Sahara Africa, Javanese batik was introduced in the 19th century by Dutch and English traders. The local people there adapted the Javanese batik, making larger motifs, thicker lines and more colors. In the 1970s, batik was introduced to the aboriginal community in Australia, the aboriginal community at Erna bella and Utopia now develop it as their own craft.

Perbedaan Bahasa Inggris British dan Amerika



Perbedaan Bahasa Inggris British dan Amerika

Ejaan Bahasa Inggris yang umum dipakai di dunia bisa digolongkan menjadi dua macam, yaitu ejaan Amerika dan Britania. Ejaan Amerika sering dipakai di negara Amerika Serikat dan negara-negara yang dipengaruhi oleh AS (Filipina adalah salah satu contohnya) sedangkan ejaan Britania dipakai di negara Inggris (Kerajaan Britania) dan negara-negara Persemakmuran. Kedua ejaan ini memiliki perbedaan yang signifikan, terutama disebabkan karena konflik antara Inggris dan koloni Amerika yang berujung pada perang kemerdekaan Amerika Serikat. Rakyat Amerika Serikat pada waktu itu berusaha melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Britania dan mencari jati diri mereka sendiri dan bahasa Inggris merupakan salah satu aspek tersebut.

Pada awal abad ke-18, ejaan bahasa Inggris belum memiliki standar tertulis. Pebedaan standar tersebut menjadi kentara setelah penerbitan kamus-kamus yang berpengaruh. Ejaan Bahasa Inggris Britania saat ini hampir seluruhnya mengikuti tulisan Samuel Johnson dalam bukunya The Dictionary of the English Language(Kamus Bahasa Inggris) yang diterbitkan tahun 1755.
Ejaan Bahasa Inggris Amerika pertama kali diperkenalkan oleh Noah Webster melalui bukunya An American Dictionary of the English Language (Kamus Amerika tentang Bahasa Inggris) pada tahun 1828. Webster adalah seseorang yang gigih memperjuangkan perubahan ejaan bahasa Inggris dengan alasan kebahasaan dan nasionalisme. Banyak perubahan ejaan yang diusulkan oleh Webster yang tidak diterima.
Di Kanada, meskipun sebagian besar menggunakan ejaan Britania, namun ejaan Amerika juga digunakan karena letak Kanada yang berdekatan dengan AS.
Dua nama British dan America seakan membuat perbedaan diantara keduanya. Seakan jika kita ingin pergi ke Inggris maka kita harus belajar bahasa Inggris yang “totally different” dari Bahasa Inggris yang sering kita dengar dalam film – film hollywood atau juga musik – musik dari Amerika.
Anehnya lagi, seperti yang saya sebutkan diatas bahkan kursus – kursus bahasa Inggris ada yang sengaja memisahkan dan mencantumkannya dispanduk mereka.
Sedikit perbedaan yang terdapat antara bahasa Inggris British dan Inggris Amerika cenderung hanya memperkaya komunikasi dan tidak menimbulkan masalah ataupun kesulitan dalam berkomunikasi. Berikut perbedaan bahasa Inggris British dan Amerika ditinjau dari beberapa sudut pandang.

Spelling
Bahasa Inggris British cenderung mempertahankan ejaan banyak kata yang asalnya dari Perancis, sedangkan Inggris American mencoba untuk mengeja kata lebih mendekati cara mereka melafalkannya dan mereka menghilangkan huruf-huruf yang tidak diperlukan.

Berikut beberapa contohnya:                    Vocabulary:

British
American
 Colour
Color
Metre
Meter
Catalogue
Catalog
Theatre
Theater
Centre
Center
British
American
Football
Soccer
Biscuit
Cookie
Toilet
Rest room
Shop
Store
Torch
Flashlight

Pelafalan (pronunciation)

·                     Orang Amerika biasanya melafalkan huruf “r” dengan menggulung lidah mereka ke belakang dan merapatkannya ke langit-langit mulut sedangkan kebanyakan orang Inggris tidak melafalkan huruf “r” dalam kata, khususnya jika terdapat pada akhir kata.
·                     Dalam bahasa Inggris Amerika kata “can” dan “can’t” kedengaran sangat mirip sedangkan dalam bahasa inggris British Anda bisa membedakannya secara jelas.
·                     Orang Amerika cenderung melafalkan kata seperti “reduce”, “produce”, “induce”, “seduce” (kata-kata kerja yang berakhiran “duce”) dengan lebih rileks, yang berarti bahwa setelah huruf “d” mengikut bunyi/huruf “u”. Dalam bahasa Inggris British setelah huruf “d” ditambahkan “j”.
·                     Orang Amerika memiliki kecenderungan untuk mereduksi kata dengan menghilangkan beberapa huruf. Kata “facts” misalnya dalam bahasa inggris Amerika dilafalkan sama dengan kata “fax” - “t” tidak diucapkan.
·                     Kadang-kadang huruf dihilangkan dalam bahasa Inggris British seperti dalam kata “secretary”, dimana huruf “a” tidak diucapkan.

AIDS





AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pencegahan

Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.

Penanganan

Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP). PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual, dan lelah.

Sejarah

AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.
Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan. HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.
Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio. Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.